Dahulu Asy-Syaikh (Rahimahullah) memulai belajarnya di masjid-masjid Jami’ belajar membaca dan menulis, kemudian Asy-Syaikh memulai dengan belajar membaca Al-Qur’an akan tetapi hanya sekedar baca. Kalaupun ada tambahan pelajaran, beliau menghafalkan sebagian mutun (kitab-kitab yang belum dijabarkan) yang sering dipergunakan oleh madzhab-madzhab, lalu beliau membaca kitab-kitab sejarah, itupun sekedar membaca. Maka akhirnya beliau menyelesaikan jenjang belajar di tempat itu.
Asy-Syaikh pada saat itu hidup sebagai seorang anak yatim yang sangat mencintai ilmu dan sangat membenci taqlid semenjak kecil. Selanjutnya beliau menyia-nyiakan usianya sekitar umur 20 atau 25 tahun, dengan tanpa belajar ilmu yang bermanfaat, karena tidak adanya yang memberikan bantuan, yang mengarahkan beliau untuk belajar.
Selanjutnya, waktu terus bergulir, lantas belajarlah Asy-Syaikh ke masjid Jami’ Al-Hadi (di kota Saadah – tempat orang-orang Syi’ah), karena tidak adanya orang yang menolong untuk mengarahkan kepada Al Haq dan yang memberikan bantuan. Qadarallah, akhirnya beliau memiliki keinginan yang kuat untuk pergi ke negeri Haramain (Makkah dan Madinah) dan Najed (Saudi Arabia dibagi menjadi tiga wilayah/propinsi, propinsi Timur, Tengah (Najd) dan Barat. Najd sekarang mencakup wilayah ibu kota KSA, Riyadh dan sekitarnya), dari sinilah awal permulaan hidayah Allah Ta’ala turun.
Pada saat itu Asy-Syaikh berangkat ke negeri Haramain dan Najed dengan niatan untuk bekerja. Dahulu, beliau banyak terpengaruh oleh (dakwah yang dibawa) para da’i – yang dahulu – suka berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lainnya. Namun akhirnya Asy-Syaikh mengetahui hakikat dakwah mereka sebenarnya, setelah beliau menuntut ilmu agama yang bermanfaat ini. Ternyata mereka bukanlah penuntut ilmu agama yang benar.
Dahulu pertama kali Asy-Syaikh bekerja sebagai penjaga apartemen di Al-Hajun (Makkah). Akhirnya beliau diberikan petunjuk Allah Ta?ala untuk membeli kitab-kitab : “Shahih Al-Bukhari”, “Riyadus-Shalihin”, “Bulughul Maram” dan “Fathul Majid”, dan beliau juga diberi makalah-makalah yang bertemakan Tauhid. Sehingga beliaupun mulai menyibukkan diri dengan belajar membaca kitab-kitab yang beliau beli itu.
Akhirnya kitab-kitab tersebut banyak memberikan pengaruh didalam dirinya, khususnya kitab “Fathul Majid”, tentunya berbeda apa yang beliau dapatkan selama beliau tinggal negeri Al-Haramain dibanding dengan negeri asalnya, terutama dari segi ilmu agama.
Beberapa waktu lamanya tinggal disana, Asy-Syaikh pun kembali pulang ke Yaman dan beliau terpanggil untuk menjadi seorang da’i. Beliau menyaksikan banyak kemungkaran di negerinya, sehingga beliau tidak membiarkan perbuatan mungkar, kecuali beliau ingkari. Diantaranya perbuatan berdo’a kepada selain Allah, pengagungan kuburan, hal ini membikin orang-orang Syi’ah memusuhi Asy-Syaikh secara terang-terangan. Akibat pengingkaran kepada Syiah ini, maka akhirnya beliau dikembalikan kepada keluarganya dan dilarang berdakwah, atau mereka (orang-orang Syi?ah) akan memenjarakannya.
Memang pada saat itu negara Yaman berada dibawah kekuasaan mereka, dan Asy-Syaikh tidak tahu tentang pemerintahan dan orang-orang yang berpengaruh di dalam pemerintahan serta tidak mengenal Masyaikh Al-Qabaial (kepala suku).
Dengan kejadian ini, Asy-Syaikh sangat membenci orang-orang Syi’ah, memang Asy-syaikh pun diam – tidak berdakwah -, akan tetapi aqidahnya terpancang kuat di dalam dadanya.
Demi mengembalikan manhaj Asy Syaikh agar tidak menentang Syiah, maka orang-orang Syi?ah kembali memasukkan Asy-Syaikh ke masjid Jami’ Al-Hadi untuk membersihkan otak beliau dari ?pemikiran? Al-Wahabiyyah (Sesungguhnya kita salafiyyin tidak menyandarkan diri kita kepada seorangpun, melainkan hanya menyandarkan kepada sunnah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasalam ).
Selanjutnya Asy-Syaikh belajar di tempat mereka tiga tahun lamanya dan menurut aturan jenjang akhir belajar disana ditempuh selama dua belas tahun. Beliau belajar di tempat mereka dengan penuh kebencian, diantara kitab yang dipelajari pada saat itu : “Al-’Aqdu Tsamin”, “Tsalatsina Masalah”, “Matn Al-Azhar” dan kitab di dalam ilmu Fara’id (hukum waris). Malah sebelumnya disana pernah diajarkan kitab “Bulughul Maram”, akan tetapi akhirnya dilarang.
Kemudian disana beliau memiliki kesempatan untuk belajar Nahwu, maka beliau pada saat itu sangat antusias sekali dengan pelajaran Nahwu, beliau belajar Nahwu dari kitab “Al-Aajrumiyyah”, juga kitab “Qatrun-Nada” pada gurunya, Ismail Khatabah sebanyak enam kali.
Tak lama kemudian terjadilah pergolakan di negara Yaman yakni pada tahun 1382 H. Maka pergilah Asy-Syaikh ke kota Najran (kota di bagian selatan KSA perbatasan dengan Yaman Utara). Beliau tinggal disana dua tahun lamanya dan ditemani oleh Abul Husain Majidud-din al-Mu’ayyidi, keduanya saling mengingatkan (dalam faidah-faidah) dan Asy-syaikh banyak mengambil faidah didalam ilmu Nahwu darinya.
Asy-syaikh masuk ke kota Najran yang pada itu sedang dipimpin oleh Ibrahim Al-Hamdi. Namun disana terjadi pergolakan, Asy-Syaikh melihat bahwa peperangan yang terjadi lantaran urusan dunia saja, yakni antara Kerajaan dengan Republik (di Yaman), maka Asy-Syaikh menetapkan untuk pergi dari Najran.
Pergilah Asy-Syaikh ke kota Riyadl dengan maksud ingin bekerja, namun ketika di tengah perjalanan rencana berubah, ada satu keinginan yang kuat dan Allah (Subhanahu wa Ta’ala) menghendaki lain untuk dirinya. Beliau berkata (rahimahullah) kepada dirinya sendiri : “Wahai fulan, engkau telah menjadi da’i dan orang-orang di negerimu telah banyak mengambil faidah, apakah engkau akan menyia-nyiakan dirimu?”. Maka pergilah beliau ke tempat menghafal Al-Qur’an milik orang Yaman yang bernama Muhammad ibn Sinan Al-Hada’i, beliau sangat senang dengan Asy-syaikh, karena dapat mengambil faidah dengan baik khususnya di ilmu Nahwu. Tinggallah Asy-Syaikh disana selama satu bulan setengah, namun lantaran terjadi perubahan cuaca yang tidak bersahabat, akhirnya menyebabkan beliau jatuh sakit.
Melihat ketidakcocokan kondisi cuaca ini (di Riyadh, Najd), maka Asy-syaikh mengambil keputusan untuk pergi ke kota Makkah, dan beliau (rahimahullah) tidak memiliki uang sepeser pun kecuali hanya cukup untuk membayar ongkos kendaraan (yang menuju kota Makkah). Beliau hanya berbekal sepotong roti dan kurma, kemudian beliau memakannya dan minum air yang dibawa. Sampailah beliau tiba di kota Makkah dengan selamat, selang beberapa saat beliau mencari tempat tinggal.
Beliaupun menimbang-nimbang, apabila tinggal bersama orang-orang yang berasal dari negerinya, maka akan terganggu karena suara lagu-lagu, tetapi apabila tinggal di Masjidil Haram akan kedinginan dan dapat menyebabkan sakit batuk. Beliaupun memutuskan tinggal di Masjidil Haram, (untuk mengantisipasi hawa dingin) beliau membeli secarik selimut.
Sehari-harinya Asy Syaikh minum dari air zam-zam, makan seadanya serta tidur di pelataran masjid. Bahkan Asy-Syaikh bekerja pada pagi harinya, barulah pada malam harinya beliau menuntut ilmu agama, terkadang beliau begadang sampai tengah malam. Asy Syaikh berkata (rahimahullah): “Dan dahulu aku mendapati ilmu itu sangat lezat sekali, seperti aku ini seorang raja”, dan dahulu beliau hadir di majlisnya Asy-syaikh Yahya ibn Utsman Al-Bakistani di dalam pelajaran kitab “Shahih Al-Bukhari”, “Shahih Muslim” dan “Tafsir ibnu Katsir”.
Kemudian Asy-Syaikh masuk di Ma’had Al-Haram Al-Makki dan dahulu yang bertanggung jawab atas beliau adalah Asy-Syaikh Abdullah ibn Humaid. Maka majulah bersama beberapa orang santri untuk melakukan tes ujian dan berhasillah beliau. Berkata Asy-Syaikh (rahimahullah) : “Kami saling membantu di dalam menjawab soal, dahulu saya kuat di dalam pelajaran Nahwu. Dan yang lainnya mereka kuat di dalam pelajaran Tauhid dan ilmu Musthalah Al-Hadits.? Sampai-sampai salah seorang diantara mereka, ketika ditanya tentang Asma?ul khamsah (dalam ilmu Nahwu) ? Maka dijawab : “Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali (radliyallahu ‘anhum) dan ??. Lalu ketika Asy Syaikh sudah menetap menjadi santri di Ma’had, datanglah keluarganya masuk dari kota Najran.
Asy Syaikh terhitung tinggal di Makkah selama enam tahun lamanya, karena jenjang pendidikan yang ada (enam tahun). Dahulu Asy-Syaikh juga rajin mendatangi pelajaran-pelajaran yang diadakan di Masjidil Haram dan diantara guru-gurunya disana yakni Asy-Syaikh Muhammad ibn Abdillah Ash-Shomali dan Asy-syaikh Abdul-’Aziz Rasyid An-Najdi.
Nah, ketika Asy Syaikh tamat dari Ma’had Al-Haram Tsanawi dan Mutawasth (SMA), masuklah beliau ke Al-Jami’ah Al-Islamiyyah di Madinah (Universitas Islam Madinah, KSA).
Kebanyakan santri yang lainnya – alumni Ma’had Al-Haram – masuk di (fakultas) kuliah Ad-Da’wah dan Ushul ad-Dien, demikian juga Asy Syaikh. Karena adanya santri-santri yang menonjol di dalam kuliah tersebut, maka dibukalah kelas khusus, maka masuklah Asy-Syaikh mengambil jurusan ilmu Hadits. Dahulu Asy-syaikh banyak mengambil faidah (dari program khusus Ilmu hadits itu) dan itulah sebaik-baiknya At-Takhasus (penjurusan). Diantara guru-gurunya yang paling menonjol waktu itu adalah Asy-Syaikh Muhammad Al-Hakim, Asy-Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab Al-Mashri dan Asy-Syaikh Hammad Al-Anshari.
Asy-Syaikh memanfaatkan masa musim liburan untuk melakukan bahats (penelitian seperti penyusunan skripsi) dua topik yaitu “As-Shahih Al-Musnad Min As-Baab An-Nuzul” (kumpulan Hadits-hadits As-Sahih dari As-Baab An-Nuzul), risalah (skripsi) untuk kuliyah Ad-Da’wah, dan bahats “Al-Qubbah Al-Mabniyah Ala Qabri Ar-Rhasul (Shalallahu ‘alaihi wasalam)” (Kubah yang di bangun di atas kuburan Ar-Rasul (Shalallahu ‘alaihi wasallam), risalah untuk kuliyah Asy-Syari’ah.
Asy Syaikhpun menyelesaikan masa belajarnya dan meraih gelar Licente (Lc) – setara S1 – dan kedua risalahnya mendapatkan ijazah dengan predikat sangat bagus. Berkata Asy-Syaikh tentang kedua ijazahnya : “Saya tidak tahu di mana kedua ijazah tersebut ?”.
Dan dahulu Asy-Syaikh bertentangan dengan sebagian dosen-dosennya, karena mereka mengajarkan buku pelajaran yang berulang kepada mahasiswa, sebagian dosen juga menyeru kepada taqlid dan yang lainnya tidak perduli dengan kesahihan atau kedla’ifan sebuah hadits,berkata Asy-Syaikh: ?Dahulu Abdul ‘Athim Fayyadl Masri mewajibkan kepada kita taqlid akan apa-apa yang ditulisnya didalam bukunya dan yang lainnya. Dahulu aku menentangnya, maka diapun memaksaku untuk diam tidak membiarkan aku berbicara. Pada suatu ketika, aku berjumpa dengannya di masjid Nabawi, maka bergembiralah aku. Aku berkata dalam diriku, ?Ini kesempatan yang sangat baik.? Pergilah aku kepadanya dan mengutarakan apa yang ada di kepalaku semuanya, padahal ketika itu dia mengajar di dalam sebuah kajian. Kemudian para hadirin terdiam, semua sorot pandangan mereka ditujukan kepadaku dengan penuh kebencian.?
Asy-syaikh waktu itu juga menghadiri kajian yang diasuh oleh Asy-Syaikh Al-Walid Al-Imam Abdul ‘Aziz ibn Abdullah ibn Baaz (rahimahullah) dalam pelajaran “Shahih Muslim” di masjid Nabawi, juga kajian-kajian khusus yang diasuh oleh Asy-Syaikh Al-Imam Al-Muhadits Muhammad Nasiruddin Al-Albani (Rahimahullah).
Pada kesempatan pertama, Asy-Syaikh menginfaqkan kelebihan kemampuan yang diberikan oleh Allah (Subhanahu wa Ta’ala) dengan mengajar di Masjid Al-Haram, berupa pelajaran kitab-kitab ilmu Nahwu seperti “At-Tuhfah” dan “Al Qatru An-Nada”, juga kitab ilmu Al-Musthalah Al-Hadits seperti kitab “Al-Ba’its Al-Hatsits”.
Asy-Syaikh tercatat lulus dari kuliyah Ad-Da’wah dan Ushul ad-Din pada tahun 1394-1395 H, serta mendapatkan ijazah dengan gelar License (Lc) predikat sangat bagus. Beliaupun kemudian masuk ke jenjang yang lebih tinggi (Magister) pada tanggal 23/11/1395 H. Asy Syaikh dinyatakan lulus dengan predikat bagus, dimana beliau menyusun skripsinya yang berjudul : “Al-Ilzamat wa At-Tatbu’ karya Al-Imam Ad-Daraquthni” dan menyelesaikannya dengan mendapatkan gelar “Magister”. Dan lama jenjang belajar beliau selama tujuh tahun lamanya.
[Lihat: Al-Ibhaj (35-39): Biografi Asy-Syaikh hal:19-25, Pertanyaan dari kota Al-Hudaidah (Yemen) dan Pertanyaan dari negara Iraq, "Gharatul Asy-Syritah" (2/309-310)].
(Dikutip dari tulisan al Ustadz Muhammad Barmim, Surabaya, disadur dari kitab Al-Ibhaj, Biografi Asy-Syaikh, Gharatul Asy-Syritah, Al-Suyuf, Ijabatu As-Sail dan lainnya)